Senin, 29 Maret 2010

Teroris Incar remaja ??

Masa – masa remaja selalu diidentikkan dengan masa pencarian jati diri. Remaja selalu bersikap terbuka dengan hal baru dan mencoba untuk terus mempelajarinya. Oleh karena itu lah remaja selalu menjadi sasaran utama doktrin ajaran yang radikal oleh para teroris. Apalagi jika remaja tersebut sebelumnya telah beragama islam dan memiliki semangat dalam menuntut ilmu serta memiliki pandangan yang negatif terhadap dunia barat. Dan ketika remaja tersebut sedang memiliki masalah, baik dengan orang tua maupun masalah lainnya, para teroris akan dengan mudah merekrut remaja dengan pemahaman – pemahaman yang radikal. Ajaran yang mereka berikan kepada remaja tersebut akan mudah menyebar dan diterima oleh remaja. Ajaran agama islam yang telah dibelokkan tersebut diajarkan secara halus sehingga tanpa sadar remaja tersebut memiliki pemahaman yang jauh berbeda dari ajaran agama islam yang sebenarnya. Mereka beranggapan bahwa dengan memerangi orang – orang kafir atau bahkan membunuhnya maka mereka telah berjihad dan mendapat jaminan surga di akhirat kelak. Akibatnya, selain timbul pertentangan terhadap siapa saja yang dianggap musuh, remaja tersebut bahkan berani menentang kedua orang tuanya.
Pada umumnya, remaja yang mudah menerima doktrin sesat itu adalah remaja yang kondisi psikologisnya sedang mengalami kegoyahan akibat suatu masalah pada dirinya. Sebut saja Dani Dwi Permana, remaja yang masih berusia 18 tahun, yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot di Mega Kuningan, Jakarta. Pada awalnya, Dani memiliki basis keagamaan yang baik, bahkan dia sempat mejadi ketua kerohanian Islam di SMA Yadika Bogor. Namun semangat keislaman tersebut dimanfaatkan oleh Saefudin ( salah satu perekrut teroris ). Dani yang saat itu sedang stres berat karena mengalami banyak masalah dengan keluarganya dengan mudah menerima ajaran yang diberikan oleh saefudin tersebut. Sehingga akhirnya Dani nekat mengorbankan dirinya pada peristiwa tanggal 17 juli 2009 lalu.
Lain halnya dengan Nana Supriatna alias Nana Ikhwan Maulana, pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz – Carlton yang hanya berselisih beberapa menit dengan pengeboman di Hotel JW Marriot. Nana adalah sosok pemuda desa yang hidup di tengah lingkungan kemiskinan. Namun, Nana merupakan sosok pemuda yang baik, kalem dan ramah terhadap tetangganya. Dan sikap radikal Nana diduga akibat provokasi dari Noordin. M. Top.( gembong teroris ) setelah terlibat aktif dalam kegiatan berdakwah.
Dua contoh diatas sudah cukup menjadi bukti bahwa para teroris akan selalu menjadikan remaja sebagai obyek sasarannya. Oleh karena itu, langkah para teroris dalam merekrut generasi muda sebagai pelaku teror harus dengan segera diantisipasi oleh semua pihak. Hal utama yang harus dilakukan saat ini adalah mensterilkan dunia pendidikan nasional dari ideologi terorisme, termasuk yang berdalih masalah agama.
Berbagai lembaga pendidikan, seperti sekolah dan kampus, yang memiliki kegiatan keagamaan di luar sekolah atau kampus yang ditangani oleh pembimbing di luar guru atau dosen cenderung bersifat ideologis, bukan pembentukan moral spiritual, dan bahkan sering dijadikan sebagai sarana untuk pengkaderan kelompok dan partai tertentu. Hal ini akan menjadi lahan subur bagi para teroris untuk menyebarkan paham sesat mereka dengan alasan agama. Oleh karena itu, sebagai generasi muda yang berpendidikan, seharusnya dapat berlaku selektif terhadap semua pemahaman yang diterima dari berbagai pihak. Selain itu, lembaga pendidikan serta para pemuka agama pun memiliki peran yang cukup penting. Dengan memberikan pendidikan agama yang berdasarkan Alquran dan Assunah dengan pemahaman yang benar dapat mengajarkan kepada generasi muda bahwa sesungguhnya agama Islam tidak pernah menghalalkan terorisme. Nabi Muhammad saw pun tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap radikal terhadap orang – orang nonmuslim, apalagi terhadap sesama muslim. Dan sesungguhnya jihad bukan berarti memerangi orang – orang kafir dengan cara mengebom seperti yang dilakukan oleh para teroris selama ini.
Selain itu, faktor utama yang memiliki peranan yang paling penting adalah peran keluarga dalam perkembangan psikologis remaja. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga merupakan orang – orang terdekat dalam kehidupan remaja. Oleh karena itu, orang tua harus selalu memberikan perhatian lebih terhadap remaja, sebab pada masa inilah remaja sedang mencari jati diri yang sesungguhnya. Dengan memberikan pengajaran serta pemahaman yang baik, remaja akan mudah menentukan arah tujuan hidupnya. Apalagi sikap orang tua yang selalu mendidik anaknya dengan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari – harinya. Dengan demikian, remaja akan memiliki dasar agama yang kuat sehingga dapat dengan mudah menolak segala bentuk pemahaman sesat yang didapatkan dari berbagai pihak.
Walaupun dalam beberapa waktu lalu Kapolri mengumumkan bahwa Noordin. M. Top, teroris yang paling di cari selama 9 tahun terakhir, dinyatakan tewas, namun bukan berarti dengan tewasnya Noordin maka terorisme pun akan lenyap. Karena selama ini, dia telah menciptakan jaringan terorisme di bawah kepemimpinannya. Sejumlah perakit bom telah dididiknya dan mereka itulah yang sangat potensial dalam melanjutkan ideologi kekerasan Noordin tersebut. Selain itu, terorisme sesugguhnya memiliki bibit dalam masyarakat berupa ketidakadilan dan kemiskinan. Oleh karena itu, mereka tentu akan berupaya merekrut orang- orang agar masuk ke dalam jaringan mereka, terutama para remaja yang selalu menjadi incaran mereka.
Terorisme sebagai musuh bersama harus selalu diwaspadai. Terorisme hanya akan lenyap jika masyarakat menganggap ideologi terorisme adalah sesuatu yang sesat dan tidak pantas untuk dipertahankan. Untuk membongkar dan mencegah jaringan teroris di Indonesia diperlukan kekuatan yang melibatkan TNI, Polri serta kekuatan elemen – elemen masyarakat lainnya, bahkan RT, RW sampai tingkat yang lebih rendah lagi dapat turut dalam upaya pencegahan terorisme. Sebab tugas menangani terorisme adalah tugas kita semua. Baik Polri, TNI, Intelijen, pemerintah, pemuka agama, para pendidik maupun semua elemen masyarakat yang mejadi bagian dari bangsa Indonesia. Sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk selalu bahu membahu dan bersatu sebagai kesatuan dalam mempertahankan NKRI dari serangan teroris. Terutama bagi generasi muda, generasi yang akan melanjutkan tonggak perjuangan bangsa di masa depan, harus dengan tegas menolak segala sesuatu yang berlawanan dengan ideologi bangsa kita. Dengan semangat nasionalisme, kita tunjukkan bahwa terorisme bukanlah suatu hal yang dapat memecah belah persatuan umat beragama di Indonesia. Memberantas terorisme adalah tanggung jawab bersama, demi menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tenang, damai dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar