Maraknya isu penutupan ujian mandiri di berbagai Universitas di Indonesia belakangan menjadi suatu topik yang hangat untuk diperbincangkan. Sebab pasca ditetapkannya putusan Mahkamah Konstitusi tentang pencabutan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan pada 31 Maret 2010 lalu, Kementerian Pendidikan Nasional (kemendiknas) meminta Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk merekrut mahasiswa baru melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun ajaran 2011-2012 yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 66/2010 tentang tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Dihapusnya ujian Mandiri yang selama ini dituding sebagai makar terjadinya diskriminasi dan kesenjangan di bangku pendidikan ini tentu mandapat berbagai reaksi dari masyarakat, terutama PTN itu sendiri. Ujian Mandiri dinilai menimbulkan diskriminasi terhadap mahasiswa yang kurang mampu memberi bukti bahwa adanya suatu ketidakadilan yang apabila terus dibiarkan akan berdampak destruktif bagi perkembangan dunia pendidikan. Sementara dengan dihapusnya ujian mandiri tersebut, akan berdampak besar pada kondisi finansial kampus. Terutama bagi para PTN yang menitikberatkan biaya operasionalnya dari jalur mandiri, sehingga harus kerja keras untuk mencukupi keuangannya demi terjadinya defisit anggaran.
Sebenarnya, Kemendiknas sendiri tidak mengharuskan PTN untuk menutup ujian jalur mandiri dan menerima 100 % mahasiswa baru dari SNMPTN. Sebab, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) no. 34 tahun 2010, PTN dinyatakan hanya wajib menerima mahasiswa baru melalui seleksi nasional dengan kuota 60%. Sedangkan 40% nya diterima melalui ujian mandiri yang ditentukan oleh PTN bersangkutan. Sementara untuk seleksi nasional, dibagi menjadi dua yakni Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB) dan SNMPTN. Dan dari 60% kuota mahasiswa yang akan diterima melalui seleksi nasional, 20% nya diperuntukkan bagi anak tidak mampu.
Namun, sejak beredarnya isu bahwa dua PTN ternama di Indonesia yaitu ITB dan UGM yang menghapus jalur Mandiri, layaknya menjadi bahan pengkajian ulang bagi PTN lain untuk tetap mengadakan Ujian Mandiri. Adapun Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh menyatakan alasannya tidak menetapkan PTN lalukan SNMPTN secara 100 persen, karena dia ingin memberi keleluasan pada PTN dalam menjaring calon mahasiswanya. Sementara PTN juga harus memberikan perhatian lebih terhadap mahasiswa yang kurang mampu namun memiliki kredibilitas dibidang akademik. Sebab, jumlah mahasiswa tidak mampu yang meningkat dari tahun-ketahun dikhawatirkan akan berujung pada proses kemiskinan yang sistematik. Sehingga dengan adanya quota 20% ini diharapkan paradigma bahwa Perguruan Tinggi hanya berhak menerima mahasiswa yang berduit saja segera terhapuskan.
Perlunya Pengkajian yang Lebih lanjut
Dampak terbesar dari Penghapusan jalur mandiri ini terletak pada neraca keuangan kampus. Bagi beberapa PTN mungkin masih mendapatkan insentif atau pertambahan anggaran melalui corporate social responsibility (CSR), ikatan alumni (IA), kerja sama industri, kemitraan pemerintah daerah (pemda), dan kerja sama penelitian, namun tentunya tidak semua PTN mampu merealisasikannya.
Dengan demikian, regulasi untuk menutup seluruh jalur mandiri ini perlu dicermati dan dikaji lebih lanjut menyangkut permasalahan yang telah dikemukakan tadi. Disamping itu, penutupan jalur mandiri di PTN juga harus diimbangi dengan pemberian beasiswa kepada mahasiswa. Adapun beasiswa yang telah berjalan sejauh ini harus lebih ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitasnya.
Jika penutupan Ujian Mandiri dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang tepat, maka semua PTN pun akan bersedia untuk menghapus ujian mandiri. Dengan syarat pemerintah harus konsekuen dengan kebijakan yang telah disepakati dan memberi jaminan akan memenuhi semua kebutuhan PTN tersebut. Dengan demikan, langkah pemerintah untuk memberikan “karpet merah “ bagi mahasiswa yang tidak mampu pun akan terealisasikan dengan baik. Adapun Ujian Mandiri tidak lagi dianggap sebagai ladang komersialisasi pendidikan, sehingga tahap pengakaderisasi pendidikan akan berjalan secara sistematik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang diharapkan bersama dalam UU No.20 Tahun 2003, yakni menciptakan karakter masyarakat yang demokratis, berjiwa mandiri, dan berkomitmen kuat berdasarkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hari ini tepat hari tepat tanggal 26 Juni 2010. Itu tandanya tepat satu bulan nenek pindah kerumahku. Pindah dari rumah yang telah dihuni selama seumur hidup ke rumah yang paling tidak disukai olehnya. Maklum saja, dengan usianya yang telah menginjak hampir delapan puluh tahun itu, nenek masih bekerja sebagai tukang urut keliling. Dan jika nenek menginap di rumahku, penghasilan yang biasa didapatnya berkurang. Sebab, meskipun terletak di tengah kota, rumahku cukup sulit dijangkau dibandingkan dengan rumah nenek yang asli. Dengan kondisi fisiknya yang semakin lemah, nenek akhirnya menyetujui untuk tinggal di rumahku. Maklum saja, untuk duduk saja nenek harus dibantu. Belum lagi ingatan nenek yang kian lama kian memudar.
Kondisi nenek semakin hari semakin menurun. Setiap hari aku dan ibuku yang bergantian menjaga nenek. Bahkan adikku yang masih berumur delapan tahun pun tak ketinggalan membantu. Jika pagi hari, adikku yang masuk sekolah siang yang menjaga adikku. Tengah harinya ibuku mengambil jam istirahat kantornya untuk pulang menjaga nenek. Dan sore harinya aku yang menjaga nenek sampai ibu dan adikku pulang. Sementara ayah hanya bisa menjaga nenek sesekali disela-sela waktu luangnya. Begitulah setiap hari keluargaku bergantian menjaga nenek. Jangan pernah bertanya kemana perginya anak dan cucu nenek yang lain. Sebenarnya nenek memiliki dua orang anak, yaitu ibuku dan pamanku. Namun pamanku telah meninggal tidak beberapa lama setelah pindahnya nenek dari rumahnya. Dirumah nenekku itulah paman dan istrinya beserta semua anak-anaknya tinggal. Dari pamanku tersebut nenek mendapat lima orang cucu, dan dari ibu tiga orang termasuk aku. Tetapi mereka seakan tak tahu-menahu tentang keadaan nenek. Jangankan datang menjenguk, menanyakan kabar saja jarang. Mereka hanya ada disaat nenek masih sehat dan memberi uang untuk mereka. Namun kini, mereka memperlakukan nenek bak habis manis sepah dibuang. Itulah sebabnya aku merasa kesal jika mendengar nama mereka.
“Nis, tolong belikan diapers yang biasa ibu beli di Toko Ali ya, diapers untuk nenek habis nih! Pakai uang sisa belanja tadi saja. Uangnya di atas meja dapur” suara ibu itu menghamburkan lamunanku yang saat itu hanya berdiri mematung melihat ibu sedang membersihkan kotoran nenek.
“iya, Bu” jawabku sambil bergegas ke toko . Di perjalanan, aku sedikit meyesal karena tidak membantu ibu merawat nenek tadi. Dan seharusnya bukan karena hari ini saja, karena setiap kali membersihkan kotoran, aku segera menjauh. Namun, ibuku yang selalu membersihkannya dengan sabar. Bahkan pernah suatu hari ketika nenek buang air besar, aku langsung menelepon ibuku yang masih berada di kantor untuk segera pulang dan membersihkannya. Karena jujur, aku sungguh tak tahan dengan baunya. Namun, hal itu tak menjadi alasan bagi ibuku untuk membersihkannya. Sungguh, ibu benar-benar memberiku pelajaran yang berarti tentang ketulusan dan berbuat baik kepada orangtua tanpa harus mendikteku namun langsung mencontohkannya.
***
Keesokan harinya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.
Aku membukakan pintu, dan ternyata itu Kak Nana dan Kak Hendra. Saudara sepupuku yang tinggal di rumah nenek yang lama. Aku pun segera mempersilahkannya masuk. Kali ini tak seperti biasanya mereka datang menjenguk nenek, dan tingkah laku mereka di rumahku itu bukanlah layaknya seorang keluarga, tapi seorang tamu. Dibalik kedatangannya itu, ternyata tersimpan suatu hal yang membuatku semakin kesal melihatnya.
“ Ibu masih dikantor, Nis?”
“iya Kak, biasanya sih nanti siang sekitar jam satu baru pulang, soalnya hari ini kata Ibu ada lembur” jawabku sambil menyembunyikan kekesalanku. Dan sebagai cucu yang termuda setelah adikku, aku berusaha untuk tetap bersikap sopan kepada mereka, seperti ajaran ibuku.
“Kalau Ayah?”
“Ayah juga pulangnya telat hari ini, bahkan mungkin bisa sampai sore, Kak. Memangnya ada perlu apa?”
“Oh, tidak ada apa-apa. Kakak hanya ingin membawa seluruh pakaian nenek yang masih tersisa di rumah untuk dibawa kesini, siapa tahu nenek masih perlu”.
Kata-kata yang diucapkan oleh Kak Hendra itu seakan tanpa rasa canggung sekalipun. Membuatku semakin geram dibuatnya. Andai saja dia bukan sepupuku dan usianya yang jauh lebih tua dariku, pasti aku sudah memarahinya.”Dasar Cucu tak tahu diri” bisikku dalam hati.
“Iya Kak, letakkan di kamar nenek saja. Dan nanti Nisa akan sampaikan kepada Ibu mengenai kedatangan kakak kesini”.
Kak Nana pun langsung mengambil bungkusan berisi pakaian nenek itu dan memasukkannya ke dalam kamar. Sementara di dalam kamar tersebut, nenek sedang tertidur pulas dan tak mengetahui akan kedatangan dua orang cucunya yang telah dibesarkannya sejak mereka kecil itu.
Dan tanpa sedikitpun merasa bersalah, kedua orang sepupuku itu langsung berpamitan dan menitipkan salam kepada kedua orangtuaku serta nenek. Walaupun aku tahu bahwa itu hanya sekedar ucapan manis mereka saja. Mereka sama sekali tak pernah menyesali apa yang telah mereka lakukan terhadap nenek selama sakit bahkan telah berani mengusirnya dari rumah yang telah penuh dengan berbagai kenangan nenek selama masa hidupnya dan sebenarnya masih sah menjadi miliki nenekku itu.
***
Memang, sejak meninggalnya pamanku, bibi dan semua sepupuku itu berubah. Semua harta yang dimiliki nenek dikuasai oleh bibi. Sebenarnya, sudah sejak lama nenek dan bibi terlibat masalah mengenai pembagian harta di rumah tersebut. Bahkan nenek sempat tak boleh makan di rumah tersebut jika tidak memberi uang belanja untuk bibi. Dan dari pekerjaan nenek sebagai tukang urut tersebutlah, nenek memiliki uang dan mampu bertahan dalam kehidupan pahit menjelang usia senjanya tersebut. Dan kini, setelah nenek mulai sakit-sakitan, nenek berhenti bekerja menjadi tukang urut. Semenjak itulah bibi dan anak-anaknya sering memperlakukannya dengan kasar. Terlebih saat itu paman yang juga sakit-sakitan sering tidak dapat mengontrol emosinya dan kerap kali memarahi nenek. Dengan segala keterbatasannya tersebut, nenek hanya mampu bersabar dan hanya bisa mengadu pada tetangga yang masih berstatus keluarga tersebut. Dari keluargaku itulah, akhirnya ibuku mengetahui keadaan nenek saat ini. Begitu mendengar berita tersebut, kami sekeluarga pun langsung menjemput nenek. Namun, begitu terkejutnya kami ketika melihat kondisi nenek yang hanya terbaring lemah dengan wajah pucat serta keringat dingin yang terus mengucur dari tubuhnya yang saat itu hanya dijaga oleh seorang tetangga. Sementara bibi dan anak-anaknya entah pergi kemana. Kami pun segera membawa nenek kerumah sakit. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, nenek menderita gejala demam berdarah serta terdapat pembuluh darah yang pecah di otak nenek. Berita tersebut sangat mengejutkan kami. Akhirnya nenek dirawat dirumah sakit hampir selama 2 bulan. Selama itu pula bibi dan anak-anaknya jarang sekali menjenguk nenek. Pernah sekali Kak Nana menjenguk nenek, itupun karena mengantar paman yang juga sedang check up di rumah sakit yang sama. Miris memang, di penghujung usianya, nenek diperlakukan dengan tak semestinya. Harapan hari tua yang penuh dengan kasih sayang anak dan cucunya, kini justru sebaliknya.
***
Suatu hari.
“ Yah, tadi ibu seharian sudah mencarinya, tapi tidak ketemu-ketemu juga”
“Coba cari yang lebih teliti, Bu. Ibu itu kan sering ceroboh”
“Benar Yah, dari lemari yang paling atas sampai yang yang paling bawah sudah Ibu periksa, tadi juga dibantu oleh Yani yang selama ini menjaga nenek. Ibu masih ingat waktu itu nenek menyimpan kalungnya itu di dalam lemarinya di rak nomor dua. Tapi tetap saja tidak ada.”
“Ibu sudah tanyakan ke Nana?”
“Sudah, dia bilang tidak mengetahuinya. Ibunya pun juga cuek saja ketika ibu tanya.”
“Atau jangan-jangan mereka mencurinya, Bu?”
“Ah, Ayah jangan suka berburuk sangka seperti itu. Mungkin saja nenek lupa meletakkannya dimana, kan nenek sudah semakin pelupa. Jangankan ditanya dimana meletakkan kalungnya, ditanya sudah makan atau belum saja lupa.”
“Tapi bisa saja kan , Bu. Masalahnya kalung itu barang yang berharga. Dan biasanya orang akan tetap ingat dengan barang yang bernilai baginya. Beda halnya dengan makan atau minum dan sebagainya. Nanti Ayah saja yang kesana langsung menanyakannya kepada Nana dan ibunya.”
Siang itu, aku yang baru pulang sekolah. Namun langkahku langsung berhenti di depan pintu mendengar pembicaraan kedua orangtuaku itu. Sebenarnya aku kurang mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, karena aku tak mendengarnya dari awal. Tapi, akhirnya aku mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Dan hal ini membuatku semakin geram saja melihat tingkah laku sepupu-sepupu beserta ibunya itu. Benar-benar tak tahu diri, sudah selama ini hidupnya menumpang dengan nenek, apalagi ketika nenek sakit, bukannya mereka membantu mengurus nenek, tapi mereka malah menguras habis harta miliki nenek. “Ya Allah, berilah hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan terhadap nenek”, pintaku dalam hati.
Akhirnya aku pun pergi bersama ayah menuju rumah nenek. Sementara ibu dan adikku menjaga nenek di rumah sakit. Ketika sampai, tanpa basa-basi lagi, ayah langsung menanyakan kalung nenek kepada bibi yang saat itu sedang asyik menonton televisi. Agaknya ayah juga hilang kesabaran melihat perbuatan mereka sama halnya denganku. Berdasarkan pengakuan bibi, menurutnya kalung itu telah dijual mereka atas imbalan telah mengizinkan nenek tinggal di rumah mereka. Spontan saja ayahku langsung marah atas pernyataan bibi itu. Karena berdasarkan sertifikat tanah yang asli, rumah itu masih sah menjadi milik nenek. Tetapi, bibi beralasan lain, yakni nenek telah menjual rumahnya kepada mereka agar mendapat uang untuk biaya naik haji tahun lalu. Alasan yang sangat tidak logis tentunya, sebab sebagian besar uang untuk naik haji tersebut diperoleh nenek dari tabungannya di bank selama ini dan bantuan dari beberapa sanak famili lainnya. Namun bibi tetap saja tak mau mengakuinya. Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Ayah yang tak mampu mengendalikan emosinya lagi memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Aku yang dari tadi hanya terdiam pun mengikuti ayah.
***
Akhirnya Dokter membolehkan nenek untuk kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan saja. Maklum saja, setelah lebih dari satu bulan dirawat intensif di rumah sakit, kondisi nenek tidak menunjukkan adanya kemajuan, bahkan uang tabungan Ibu pun habis untuk membiayainya. Namun, apalah artinya uang dibandingkan dengan jasa yang telah diberikan nenek selama ini terhadap ibu. Karenanya, ibu tak pernah sedikit pun mengeluh untuk merawat nenek. Tak terhitung berapa banyak uang, waktu, dan tenaga ibu yang dikeluarkannya untuk membalas budi orangtuanya itu. Namun, senyum tulus ibu itu lagi-lagi membuatku mengerti akan arti kasih sayang seorang anak terhadap ibunya yang sebenarnya.
Namun, satu berita duka datang dari sepupuku. Paman yang selama ini sakit-sakitan akhirnya dipanggil untuk menghadap Sang Khaliq untuk selama-lamanya. Ayahku pun langsung pergi berziarah dan ikut serta dalam proses pemakamannya. Sementara Aku sendiri bingung, apakah aku pantas bersedih atas berita ini mengingat berbagai perlakuan kasar yang telah dilakukannya kepada nenek, ibunya sendiri. Namun, aku melihat ibu yang dari tadi menangis sambil membereskan kamar untuk dihuni nenek dirumahku. Menunjukkan bahwa betapa sayangnya ia kepada kakaknya tersebut. Meskipun tak terhitung berapa cacian dan makian yang ia torehkan kepada ibu mereka di akhir hidupnya.
“Ya Allah, ampunilah dosa pamanku dari segala dosa yang telah dilakukannya selama hidupnya didunia, terimalah ia disisi-Mu dengan tempat sebaik-baiknya.”
***
Dan kini di hari tepat 1 bulan nenek dirumahku, nenek belum juga menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Bahkan jika sebulan yang lalu nenek masih bisa dipapah untuk ke kamar kecil, kini jangankan bisa berjalan sendiri, untuk ingat ingin buang air kecil sendiri saja tidak. Terpaksa kami memakaikan nenek diapers khusus orang dewasa.
Namun, ternyata cobaan dari Allah tak hanya berhenti disitu. Beberapa minggu ini, ibu pendarahan yang tak seperti biasanya. Jika menstruasi, ibu hanya menghabiskan waktu sekitar 6 hari, namun kini lebih dari dua minggu sudah darah ibu mengalir tak henti-henti. Darah yang dikeluarkankan pun semakin banyak. Akibatnya ibu sering kali terlihat pucat dan berat badan ibu menurun drastis. Ketika diperiksa Dokter, kami sangat terkejut, ternyata ibu mengidap kanker kista. Dan jika tidak segera dilakukan operasi maka nyawa ibu akan terancam. Ketika mendengar kabar itu, seluruh tubuhku gemetar dan lemas seketika. Hatiku terus menuntut, menuntut keadilan dari Sang Maha Adil.
“Ya Allah, pantaskah Engkau memberikan ujian kepada oarang sebaik dan setulus ibuku? apakah kau tak melihat betapa besar pengorbanan yang telah dilakukannya demi keluarganya? namun kini, bukannya Engkau memberinya kebahagiaan, tapi Kau memberinya ujian yang amat berat.
“Ya Allah, beginikah cara-Mu untuk mengasihi hamba-Mu? seperti inikah caramu membalas kebaikan hamba-Mu? tunjukkanlah keadilan-Mu ya Allah. Berilah kami kebaikan atas apa yang telah Kau berikan kepada kami. Jadikanlah ujian-Mu ini sebagai tangga bagi kami menuju Surga-Mu. Dan jadikanlah Ibuku kelak sebagai salah satu bidadari penghias surga-Mu.”
***
Akhirnya, ibu pun terpaksa dioperasi. Selama proses operasi berlangsung, tak henti-hentinya kami dan keluarga yang lainnya berdoa kepada Allah demi kelancaran proses operasi ibu sehingga ibu kembali seperti sediakala. Sementara itu, nenek yang saat itu dijaga olehku hanya mampu terbaring tak berdaya di kamarnya. Sepintas aku melihat linangan air matanya. Aku sadar, meskipun nenek tak mampu berbuat apa-apa, namun ia tahu, bahwa ia turut mendoakan anak perempuannya yang sedang bertarung melawan kematian itu. Naluri seorang ibu yang tak terbatas oleh ruang dan waktu bahkan keterbatasan fisik.
***
Akhirnya, operasi berjalan dengan lancar. Dan dokter memastikan bahwa kondisi ibu akan berangsur-angsur membaik seperti semula. Tak lupa ayah serta keluarga lainnya sujud syukur atas berkah yang diberikan Allah Swt ini. Dan ternyata apa yang dikatakan dokter itu memang benar, kini darah ibu tak lagi keluar seperti dulu. Kondisi ibu pun semakin membaik. Namun, lain halnya dengan kondisi nenek. Semakin hari, nenek semakin tak berdaya. Ketika terakhir kali diperiksa ke dokter, dokter hanya mengatakan bahwa sebenarnya tak ada harapan lagi bagi nenek untuk mampu bertahan hidup dalam waktu yang lama. Namun semua itu terletak dari keputusan Allah semata. Sebagai manusia kita hanya bisa pasrah dan berdoa demi kebaikan bersama.
Sejak saat itu pula, kabar mengenai sepupu dan bibiku itu seakan lenyap. Kami sekeluarga tak pernah lagi mengunjungi mereka. Kami sebenarnya tak menginginkan hal ini terjadi. Sebab, dengan meninggalnya paman dan pindahnya nenek ke rumahku, tali persaudaraan kami seakan putus. Buktinya terakhir kali aku mendengar kabar bahwa Kak Nana akan menikah, namun jangankan mengundang, memberitahu saja tidak. Memang hal ini sempat membuatku kesal untuk kesekian kalinya. Namun, ibu terus menasehatiku dengan bijaknya, bahwa “Setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri. Dan diantara orang yang berhasil dalam kehidupannya adalah orang yang memberikan yang terbaik bagi lingkungannya, terutama kepada keluarganya. Sehingga namanya akan selalu dicatat oleh semua orang meski raganya telah jauh darinya.” Sebuah nasehat yang akan kupegang seumur hidupku.
***
Dan kini, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya untuk kesekian kalinya. Hari ini, tepat pukul 02.00 malam tadi, Allah menjemput nenekku menuju ke pangkuan-Nya. Nenek menghembuskan nafas terakhirnya diumur 78 tahun. Seluruh keluargaku hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Tangis dan pilu dirasakan oleh seluruh keluarga. Terutama mengenang jasa-jasa nenekku selama hidupnya. Nenekku yang terkenal dengan kebaikan hati dan ketulusan hati dalam menolong orang lain. Bahkan nenek sering tidak meminta upah dari pasiennya yang diurutnya. Nenek yang terkenal dengan keramahannya dan kesholehahannya itu kini telah meninggal dunia. Kebaikan dan kemuliaan hati yang diwariskan kepada anak perempuannya, Ibuku.
Namun yang membuatku semakin pilu, di hari pemakaman nenek ini saja, sepupu dan bibi ku itu tak memperlihatkan batang hidupnya. Tak terbanyang betapa besar jasa nenek kepada mereka, namun mereka tak pernah peduli dan terus menerus mendzhalimi hingga di akhir hayatnya. Karenanya, ibuku sering telat dan dimarahi oleh bosnya di kantor, adikku yang tak sempat mengerjakan PR, dan aku yang tak bisa ikut kegiatan ekstrakurikuler lagi, dan uang ayah yang semakin terkuras. Namun kami rela melakukannya demi nenek. Dan kami berharap agar sepupu dan bibiku itu segera sadar akan kesalahannya. Dan kami hanya mampu menyerahkan segalanya kepada Allah yang tak pernah alpa dari pengawasan-Nya.
Setelah meninggalnya nenek, kehidupan kami kembali seperti semula. Semua aktivitas yang dulu tersita pun kini dapat dikerjakan kembali. Namun, terkadang kenangan ketika merawat nenek terus menghantui kami. Biasanya jika pagi hari, nenek minta didudukkan dan dibawa ke teras rumah. Belum lagi ketika memberi nenek makan, dan lain sebagainya kini tak akan pernah terulang kembali dan hal ini terkadang membuatku meneteskan air mata. Kuakui terkadang aku merasa Allah telah memberi kemudahan bagi kami dengan meninggalnya nenek. Karena dengan demikian, kami bisa melakukan aktivitas kami masing-masing. Namun rasa kerinduanku kepada nenek jauh lebih besar dibandingkan semua itu. Dan aku tak pernah membayangkan betapa besar rasa kehilangan bagi ibuku. Karena dengan meninggalnya nenek, ibu sekarang tak memiliki keluarga kandung lagi. Namun, ketegaran ibuku dalam menjalani hidupnya membuatku semakin menyayanginya.
Namun, ternyata dibalik semua itu, ada satu hal yang ternyata selalu disembunyikan oleh ibu. Semua itu bermula saat aku tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan salah seorang keluarga dari ayah. Namun, aku tetap saja tidak mengerti terhadap apa yang sedang mereka bicarakan. Aku semakin penasaran terhadap hal tersebut. Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk meminta ibu menceritakannya langsung padaku. Awalnya ibu menolak, namun aku terus memaksa dan akhirnya ibu menceritakannya. Sebuah sejarah kehidupan yang panjang, yang membuatku semakin sadar akan kasih sayang seorang ibu.
“Sekitar empat puluh tahun yang lalu, nenek bercerai dengan suaminya karena suatu hal. Dari hasil pernikahannya itu, nenek mendapatkan seorang anak laki-laki. Kehidupan nenek pun dilalui dengan seorang diri. Hingga satu tahun kemudian, nenek kembali menikah dengan seorang laki-laki berdarah minang. Namun setelah lebih dari satu tahun menikah, nenek tidak dikaruniai oleh seorang anak pun. Sementara anak laki-laki dari hasil pernikahannya yang pertama terus meminta diberikan adik. Oleh karena itu, nenek terus berusaha, namun Allah tak juga memberi mereka seorang anak. Hingga suatu hari, salah seorang tetangga berketurunan tionghoa rela memberikan anaknya kepada nenek. Hal ini karena wanita tersebut tak memiliki uang yang cukup untuk membiayai seluruh keperluan anaknya. Sementara suami wanita tersebut telah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dengan senang hati, nenek pun menerima bayi mungil tersebut. Sementara wanita tersebut menghilang setelah memberikan anaknya itu. Tinggallah nenek dan Bayinya itu. Bayi perempuan yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan hingga dewasa. Dialah ibu.”
Begitu mendengarcerita Ibu, aku langsung menangis dan memeluk Ibu dengan erat. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku hanya mampu menangis dan terus menangis. Baru kusadari selama ini, ternyata nenekku bukalah nenekku yang sebenarnya. Aku pun mengetahui alasan mengapa aku dan adikku mirip dengan orang keturunan tionghoa. Namun demikian, betapa besarnya kasih sayang Ibu merawat wanita yang sebenarnya bukan Ibu kandungnya. Sementara anak kandung nenek justru menelantarkannya. Dan betapa bangganya aku lahir dari rahim seorang seorang wanita mulia yang sangat luar biasa. Dari hawa tubuhnya aku seakan mencium aroma surga. Tak salah rasanya jika aku menjadikannya sebagai sosok wanita teladan layaknya Khadijah, Aisyah dan Fatimah Az-Zahra.
Dalam pelukannya, aku melihat sebuah senyum tulus terlukis diwajahnya yang tak lagi muda. Dari sorot matanya, aku tahu betapa besar harapan Ibu kepadaku agar menjadi seorang wanita yang tak kalah hebat dengannya, yang mampu bertahan dikala berbagai cobaan manerpa, yang mampu menjadi ibu juara nomor satu di dunia. Aku pun berjanji akan menjadi anak yang selalu berbakti kepada kedua orangtuaku. Aku akan terus membahagiakannya dan takkkan pernah mengecewakannya. Hingga suatu hari dengan penuh bangganya Ibu berkata “ Anakku juara nomor satu di dunia.”
TAMAT
Cerita ini kepersembahkan khusus untuk para Ibu yang telah membesarkan anaknya dengan penuh cinta selama hidupnya, terutama Ibuku yang teramat berjasa hingga aku bisa menjadi seperti aku yang sekarang ini. Adapun kisah ini merupakan kisah nyata penulis meskipun ada beberapa bagian yang sengaja diubah demi terjaganya rahasia keluarga yang tak bisa diceritakan saat ini.
***
“Bu, demimu, aku rela mengorbankan semua keinginanku untuk mewujudkan impianmu. Karena aku ingin melihatmu selalu tersenyum hingga maut memisahkan kita. Dan tetaplah menjadi kuntum bunga surga yang terus menghiasi dunia ini”
Suhu yang kian memanas, polusi di mana-mana, global warming, permukiman yang kian memadat serta sederet bencana alam yang sering melanda di permukaan bumi mungkin menjadi alasan bagi manusia untuk mulai mencari tempat bermukim di wilayah lain. Namun, apakah ada wilayah di permukaan bumi yang bebas dari segala masalah tersebut. Atau apakah mungkin ada suatu wilayah di luar permukaan bumi yang sesuai dengan harapan kita. Luar angkasa ? yah, inilah satu-satunya kata yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan kita tersebut. Tak heran jika sejak puluhan tahun silam para ilmuwan dari berbagai negara berlomba-lomba mengirimkan pesawat dan antariksawannya untk menjelajahi luar angkasa. Bahkan, berkat kecanggihan teknologi dan informasi yang kian maningkat, kini para ilmuwan pun telah berhasil membuat suatu stasiun yang menjadi tempat transit pesawat luar angkasa sekaligus sebagai tempat pendaratan bagi para antariksawan untuk melakukan kegiatan observasi benda- benda langit yang bernama ISS (International Space Station) atau yang lebih dikenal dengan nama stasiun luar angkasa.
Pembangunan proyek ISS ini sudah dimulai sejak tahun 1998 melalui perundingan yang panjang. Proyek yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar 50 sampai 100 milyar dollar ini awalnya direncanakan untuk ditempatkan pada ketinggian 373 diatas permukaan bumi. Ide untuk pembangunan ISS ini pertama kali dicetuskan oleh negara Amerika Serikat dan dimulai dengan pelncuran modul kendali bernama Zarya milik negara Rusia dan dua modul lainnya masing masing Unity miliki AS dan Zvevda milik Rusia yang menempatkan 3 awak pesawatnya. Namun pembangunan ini sempat terhenti antara tahun 2003 dan 2005 sejak NASA (National Aeronautics and Space Administration) menghentikan peluncuran karena insiden kecelakaan pesawat ulang alik milik Columbia. Setelah dilanjutkan kembali, sejumlah modul telah ditambahkan, seperti laboratorium Kido milik Jepang dan Colombus milik Eropa. Dan hingga kini masih direncanakan beberapa kali peluncurannya dan pembangunan dijadwalkan selesai hingga akhir tahun 2010 ini. Semakin dekatnya dengan penyelesaian pembangunannya, stasiun luar angkasa internasional ini untuk pertama kalinya dihuni oleh 6 orang sebab selama ini hanya 3 orang yang bisa tinggal disana. Keenam awak yang telah bergabung kini mendapat mandat dalam tim yang disebut ekspedisi 20. Tim ini telah mempresentasikan negara – negara yang bergabung dalam program pembangunan ISS, yakni AS, Rusia, Kanada, Jepang dan 11 negara Eropa. (dikutip dari www.space.com).
Stasiun luar angkasa ini memiliki tujuan yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Untuk kepentingan ilmiah, bidang astronomi sudah sangat berkembang sejak adanya teleskop Hubble. Namun atmosfer bumi yang kini semakin terkena polusi sehingga tidak kondusif untuk melakukan kegiatan observasi langit. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian yang berada dilluar atmosfer, yaitu melalui stasiun antariksa ini. Selain itu, lingkungan dengan gravitasi nol yang ada di luar angkasa juga menjadi nilai plus untuk penyelidikan mengenai bahan industri, Para peneliti mengetahui, bahwa pada lingkungan tanpa gaya berat bahan bercampur dengan baik. Pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kristal lebih murni, baik untuk bahan farmasi/obat – obatan, maupun untuk bahan industri yang lain.
Seiiring dengan itu, makin terbatasnya sumber daya alam dibumi yang ada membuat manusia perlu menginventarisasi sumber daya alam yang baru yang mungkin terbatas dan sulit dicari. Adanya anjungan angkasa dalam bentuk stasiun orbit yang berkali-kali meyisir wilayah-wilayah bumi pasti akan membantu upaya tersebut. Satu lagi aspek yang penting ada pada stasiun angkasa adalah pemanfaatan observasi militer. Meski sekarang tidak ada lagi ancaman serius yang berkaitan dengan konflik antarkekuasaan besar didunia, doktrin udara (yang diperluas ke wilayah antariksa) menggariskan, bahwa siapa yang menguasai udara/antariksa punya keunggulan lebih dibanding lawan yang tidak menguasainya. Fungsi ini memang sekarang banyak dilakukan dan satelit dimana – mana. Tetapi jelas, bahwa penguasaan teknologi anjungan angkasa memberi keuntungan strategis untuk bila sewaktu – waktu dibutuhkan bisa dimanfaatkan untuk tujuan militer. Bahkan, Negara China sebagai salah satu negara maju dikawasan Asia berencana meluncurkan modul pertama stasiun antariksanya tahun depan. Stasiun pendaratan itu akan meyediakan tempat yang aman bagi astronot-astronot China untuk tinggal dan melakukan penelitian luar angkasa.
Satu lagi manfaat dari ISS yang sangat bernilai ekonomis adalah wisata luar angkasa. Perusahaan wisata luar angkasa, Space Adventure, mengatakan bahwa ongkos kesuluruhan untuk perjalanan ke stasin luar angkasa internasional adalah lebih dari US$ 35 juta. (Dikutip oleh Reuters, Eric Anderson CEO Space Adventure, mengumumkan hal itu dalam konferensi pers di New York). Dalam kesempatan itu, Anderson mengumumkan penerbangan “ Orbital Mission Explorers Circle”. Setiap anggota pendiri diharuskan menyumbang US$ 5 juta guna membiayai perusahaan yang akan melakukan penerbangan pribadi pertama ke stasiun itu. Sebelumnya, Space Adventures menggunakan misi antariksa Rusia untuk menuju ISS. Kini perusahaan tersebut berencana membangun sendiri roket soyuz bagi penerbangan pribadi. Proyek itu direncanakan terwujud secepatnya pertengahan kedua pada tahun 2011. Dan dimasa mendatang, Space Adventures berncana melakukan satu kali penerbangan antariksa setiap tahun dengan membawa dua penumpang di setiap misinya tersebut. Bahkan, salah satu pendiri Google, Sergey Brin, diberitakan telah membayar uang muka senilai US$ 5 milyar untuk biaya penerbangan pribadinya ke luar angkasa pada tahn 2011 mendatang. (dikutip dari www.antara.com )
Uraian diatas memperlihatkan bahwa stasiun antariksa ini memiliki banyak manfaat, baik untuk mempersiapkan perjalanan panjang antar planet, penelitian alam semesta, tujuan praktis di bidang ekonomi industri, tujuan militer maupun untuk berpariwisata ke luar angkasa. Oleh karena itulah para pendiri ISS terus mengembangkan pembangunan proyek ini.
Dengan teknologi yang semakin canggih ini, maka tidak mungkin jika suatu saat nanti para ilmuwan mengeksplorasi luar angkasa sebagai tempat bermukim pengganti bumi. Sebab dengan pertumbuhan penduduk yang pesat yaitu hampir 2 persen setiap tahunnya ( berarti jumlah penduduk bumi berlipat ganda dalam 40 tahun )(dikutip dari www.kompas.com) maka dalam jangka waktu beberapa ratus tahun lagi Bumi akan kehabisan tempat tinggal. Sehingga tak heran jika para ilmuwan mulai memikirkan konsep tentang pemukiman antariksa dengan mengkolonisasi planet – planet dan satelit di luar angkasa terutama bulan atau mars, yang selama ini dianggap memiliki karakter yang mirip dengan Bumi. Gravitasi keduanya hanya seperenam gaya gravitasi bumi, sehingga berat benda – benda hanya seperenam dari berat bumi dan energi yang kita butuhkan hanya seperenam dari energi di bumi. Terlebih bulan yang telah diteliti merupakan lahan strategis untuk pembangunan obsevarium radio karena bebas dari sinyal radio dari peralatan elektronik Bumi.
Memang, sejauh ini Bumi diketahui sebagai satu-satunya tempat yang layak untuk kehidupan manusia, namun pada suatu waktu kita akan menghadapi dilema, haruskah kita membiarkan planet – planet tetangga tak berubah, sementara permukiman di Bumi kian sempit, atau kita memodifikasinya agar dapat dihuni dengan menggunakan teknologi pelindung? seperti dengan teknologi terraforming, atau mengirim tumbuhan alga dan tanaman perintis lainnya yang dapat hidup tanpa oksigen dan kondisi ekstrim lainnya ke planet Mars dan mengubah karbon dioksida yang ada menjadi oksigen dengan bantuan sinar matahari, atau membangun tudung di orbit venus yang dapat mengurangi sinar yang masuk. Maka bukan menjadi suatu hal yang tidak mungkin jika ratusan tahun yang akan datang manusia memulai kehidupan barunya di luar angkasa. Apapun yang kita alami nanti maka hal itulah yang akan membentuk peradaban kehidupan manusia dimasa depan dan tentunya petualangan manusia baru pun akan segera dimulai.