Suhu yang kian memanas, polusi di mana-mana, global warming, permukiman yang kian memadat serta sederet bencana alam yang sering melanda di permukaan bumi mungkin menjadi alasan bagi manusia untuk mulai mencari tempat bermukim di wilayah lain. Namun, apakah ada wilayah di permukaan bumi yang bebas dari segala masalah tersebut. Atau apakah mungkin ada suatu wilayah di luar permukaan bumi yang sesuai dengan harapan kita. Luar angkasa ? yah, inilah satu-satunya kata yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan kita tersebut. Tak heran jika sejak puluhan tahun silam para ilmuwan dari berbagai negara berlomba-lomba mengirimkan pesawat dan antariksawannya untk menjelajahi luar angkasa. Bahkan, berkat kecanggihan teknologi dan informasi yang kian maningkat, kini para ilmuwan pun telah berhasil membuat suatu stasiun yang menjadi tempat transit pesawat luar angkasa sekaligus sebagai tempat pendaratan bagi para antariksawan untuk melakukan kegiatan observasi benda- benda langit yang bernama ISS (International Space Station) atau yang lebih dikenal dengan nama stasiun luar angkasa.
Pembangunan proyek ISS ini sudah dimulai sejak tahun 1998 melalui perundingan yang panjang. Proyek yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar 50 sampai 100 milyar dollar ini awalnya direncanakan untuk ditempatkan pada ketinggian 373 diatas permukaan bumi. Ide untuk pembangunan ISS ini pertama kali dicetuskan oleh negara Amerika Serikat dan dimulai dengan pelncuran modul kendali bernama Zarya milik negara Rusia dan dua modul lainnya masing masing Unity miliki AS dan Zvevda milik Rusia yang menempatkan 3 awak pesawatnya. Namun pembangunan ini sempat terhenti antara tahun 2003 dan 2005 sejak NASA (National Aeronautics and Space Administration) menghentikan peluncuran karena insiden kecelakaan pesawat ulang alik milik Columbia. Setelah dilanjutkan kembali, sejumlah modul telah ditambahkan, seperti laboratorium Kido milik Jepang dan Colombus milik Eropa. Dan hingga kini masih direncanakan beberapa kali peluncurannya dan pembangunan dijadwalkan selesai hingga akhir tahun 2010 ini. Semakin dekatnya dengan penyelesaian pembangunannya, stasiun luar angkasa internasional ini untuk pertama kalinya dihuni oleh 6 orang sebab selama ini hanya 3 orang yang bisa tinggal disana. Keenam awak yang telah bergabung kini mendapat mandat dalam tim yang disebut ekspedisi 20. Tim ini telah mempresentasikan negara – negara yang bergabung dalam program pembangunan ISS, yakni AS, Rusia, Kanada, Jepang dan 11 negara Eropa. (dikutip dari www.space.com).
Stasiun luar angkasa ini memiliki tujuan yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Untuk kepentingan ilmiah, bidang astronomi sudah sangat berkembang sejak adanya teleskop Hubble. Namun atmosfer bumi yang kini semakin terkena polusi sehingga tidak kondusif untuk melakukan kegiatan observasi langit. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian yang berada dilluar atmosfer, yaitu melalui stasiun antariksa ini. Selain itu, lingkungan dengan gravitasi nol yang ada di luar angkasa juga menjadi nilai plus untuk penyelidikan mengenai bahan industri, Para peneliti mengetahui, bahwa pada lingkungan tanpa gaya berat bahan bercampur dengan baik. Pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kristal lebih murni, baik untuk bahan farmasi/obat – obatan, maupun untuk bahan industri yang lain.
Seiiring dengan itu, makin terbatasnya sumber daya alam dibumi yang ada membuat manusia perlu menginventarisasi sumber daya alam yang baru yang mungkin terbatas dan sulit dicari. Adanya anjungan angkasa dalam bentuk stasiun orbit yang berkali-kali meyisir wilayah-wilayah bumi pasti akan membantu upaya tersebut. Satu lagi aspek yang penting ada pada stasiun angkasa adalah pemanfaatan observasi militer. Meski sekarang tidak ada lagi ancaman serius yang berkaitan dengan konflik antarkekuasaan besar didunia, doktrin udara (yang diperluas ke wilayah antariksa) menggariskan, bahwa siapa yang menguasai udara/antariksa punya keunggulan lebih dibanding lawan yang tidak menguasainya. Fungsi ini memang sekarang banyak dilakukan dan satelit dimana – mana. Tetapi jelas, bahwa penguasaan teknologi anjungan angkasa memberi keuntungan strategis untuk bila sewaktu – waktu dibutuhkan bisa dimanfaatkan untuk tujuan militer. Bahkan, Negara China sebagai salah satu negara maju dikawasan Asia berencana meluncurkan modul pertama stasiun antariksanya tahun depan. Stasiun pendaratan itu akan meyediakan tempat yang aman bagi astronot-astronot China untuk tinggal dan melakukan penelitian luar angkasa.
Satu lagi manfaat dari ISS yang sangat bernilai ekonomis adalah wisata luar angkasa. Perusahaan wisata luar angkasa, Space Adventure, mengatakan bahwa ongkos kesuluruhan untuk perjalanan ke stasin luar angkasa internasional adalah lebih dari US$ 35 juta. (Dikutip oleh Reuters, Eric Anderson CEO Space Adventure, mengumumkan hal itu dalam konferensi pers di New York). Dalam kesempatan itu, Anderson mengumumkan penerbangan “ Orbital Mission Explorers Circle”. Setiap anggota pendiri diharuskan menyumbang US$ 5 juta guna membiayai perusahaan yang akan melakukan penerbangan pribadi pertama ke stasiun itu. Sebelumnya, Space Adventures menggunakan misi antariksa Rusia untuk menuju ISS. Kini perusahaan tersebut berencana membangun sendiri roket soyuz bagi penerbangan pribadi. Proyek itu direncanakan terwujud secepatnya pertengahan kedua pada tahun 2011. Dan dimasa mendatang, Space Adventures berncana melakukan satu kali penerbangan antariksa setiap tahun dengan membawa dua penumpang di setiap misinya tersebut. Bahkan, salah satu pendiri Google, Sergey Brin, diberitakan telah membayar uang muka senilai US$ 5 milyar untuk biaya penerbangan pribadinya ke luar angkasa pada tahn 2011 mendatang. (dikutip dari www.antara.com )
Uraian diatas memperlihatkan bahwa stasiun antariksa ini memiliki banyak manfaat, baik untuk mempersiapkan perjalanan panjang antar planet, penelitian alam semesta, tujuan praktis di bidang ekonomi industri, tujuan militer maupun untuk berpariwisata ke luar angkasa. Oleh karena itulah para pendiri ISS terus mengembangkan pembangunan proyek ini.
Dengan teknologi yang semakin canggih ini, maka tidak mungkin jika suatu saat nanti para ilmuwan mengeksplorasi luar angkasa sebagai tempat bermukim pengganti bumi. Sebab dengan pertumbuhan penduduk yang pesat yaitu hampir 2 persen setiap tahunnya ( berarti jumlah penduduk bumi berlipat ganda dalam 40 tahun )(dikutip dari www.kompas.com) maka dalam jangka waktu beberapa ratus tahun lagi Bumi akan kehabisan tempat tinggal. Sehingga tak heran jika para ilmuwan mulai memikirkan konsep tentang pemukiman antariksa dengan mengkolonisasi planet – planet dan satelit di luar angkasa terutama bulan atau mars, yang selama ini dianggap memiliki karakter yang mirip dengan Bumi. Gravitasi keduanya hanya seperenam gaya gravitasi bumi, sehingga berat benda – benda hanya seperenam dari berat bumi dan energi yang kita butuhkan hanya seperenam dari energi di bumi. Terlebih bulan yang telah diteliti merupakan lahan strategis untuk pembangunan obsevarium radio karena bebas dari sinyal radio dari peralatan elektronik Bumi.
Memang, sejauh ini Bumi diketahui sebagai satu-satunya tempat yang layak untuk kehidupan manusia, namun pada suatu waktu kita akan menghadapi dilema, haruskah kita membiarkan planet – planet tetangga tak berubah, sementara permukiman di Bumi kian sempit, atau kita memodifikasinya agar dapat dihuni dengan menggunakan teknologi pelindung? seperti dengan teknologi terraforming, atau mengirim tumbuhan alga dan tanaman perintis lainnya yang dapat hidup tanpa oksigen dan kondisi ekstrim lainnya ke planet Mars dan mengubah karbon dioksida yang ada menjadi oksigen dengan bantuan sinar matahari, atau membangun tudung di orbit venus yang dapat mengurangi sinar yang masuk. Maka bukan menjadi suatu hal yang tidak mungkin jika ratusan tahun yang akan datang manusia memulai kehidupan barunya di luar angkasa. Apapun yang kita alami nanti maka hal itulah yang akan membentuk peradaban kehidupan manusia dimasa depan dan tentunya petualangan manusia baru pun akan segera dimulai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar