Minggu, 28 Maret 2010

Allah Itu Dekat...


Allah,, siapa sih yang tidak mengenal Allah ? Sang pemilik jagad raya yang Maha Pencipta. Semua manusia mengakui akan hal ini. Bahkan orang kafir pun mengakui bahwa Allah lah yang telah menciptakan mereka, tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang muslim. Allah berfirman : “ Sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang telah menciptakan mereka’, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah’.” (QS. Az-Zukhruf : 87).
Dekatnya Allah...

Allah Yang Maha Dekat dimana tak satu detik pun kegiatan manusia yang lewat dari penglihatan-Nya. Setiap arah kaki melangkah, gerak- gerik tingkah laku manusia, melainkan selalu berada dalam pengawasan-Nya. Segala sesuatu yang terbersit dalam hati dan pikiran pun tak pernah luput dari-Nya. Ya, Dialah Tuhan yang selalu mengetahui apa isi hati hamba-hamba-Nya. Ketika mengadu, memohon pada- Nya, Allah pun mengetahuinya tanpa menceritakan hal tersebut terlebih dahulu. Sehingga tak heran jika manusia menjadikan Allah sebagai tempat mencurahkan isi hati, menyandarkan berbagai macam masalah dan tempat bergantungnya segala urusan baik dunia maupun akhirat. Begitu dekatnya Allah dengan hamba- hamba- Nya hingga dalam firman-Nya Allah menjelaskan bahwa Allah lebih dekat kepada hamba-Nya melebihi urat leher hamba-Nya tersebut. Hal ini di jelaskan dalam Al- Qur’an surat Qaaf ayat 16 : “ Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengtahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Cukup hanya Allah
Jika hamba telah merasakan betapa nikmatnya dekat dengan Sang raja dari segala raja yaitu Allah Swt, maka mana mungkin bagi seorang hamba untuk berpaling dari- Nya. Niscaya segala urusan diselesaikan sesuai dengan petunjuk-Nya, yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan berdasarkan nafsu belaka. Maka untuk apa mencari pertolongan selain Allah, seperti mendatangi dukun, paranormal atau sebagainya. Bahkan hal tersebut hanya akan mendatangkan kemurkaan Allah bahkan menjadikan orang tersebut sebagai orang musyirik..Na’udzubillah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita hanya meminta dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Swt. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Saw bersabda : “ Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah “.( HR.At- Tirmidzi ). Imam an- Nawawi dan al- Haitami memberikan penjelasan terhadap makna hadits ini bahwa jika kita memohon pertolongan atas suatu urusan, baik urusan dunia maupun akhirat maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Apalagi dalam urusan – urusan yang tak seorang pun kuasa melakukannya selain Allah, seperti menyembuhkan penyakit, mencari rizki dan petunjuk. Maka jika Allah telah menguasai segala urusan, untuk apalagi manusia mencari penolong selain- Nya ? Allah berfirman : “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba – hambaNya ?” ( QS. Az- Zumar : 36 ). Dekat bukan bersatu Sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati, dan pendekatan diri hanya kepada Allah serta melepaskan segala ketergantungan hati pada dunia dan mengikatkan hati pada manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah Saw tanpa diragukan sedikit pun kebenarannya. Allah Swt berfirman yang artinya : “ Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat bagi orang – orang yang beriman ketika menutus Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat - ayat- Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan mereka Al- Kitab dan Al- Hikmah ( As- Sunnah ) padahal sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.” ( QS. Ali Imran : 164 ). Namun, manusia tetaplah manusia. Ketika seseorang dengan ghirahnya ( semangat ) dalam mendekatkan dirinya kepada Allah, terkadang tanpa disadari tergelincir ke dalam hal – hal yang justru membuatnya jauh dari ridho Allah bahkan berbuah pada kesyirikan. Na’udzubillah. Sebut saja sebagian dari golongan sufi yang mengatakan bahwa “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah. Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah. Allah ada di mana – mana. Seluruh dunia ini terjadi ( karena ) campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri manusia ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat hijab ( batasan ) kepada Allah. Akan tetapi dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya....” Begitu perih terasa jika mendengar sekelompok orang yang menyatakan bahwa begitu dekatnya mereka dengan Allah, hingga mereka bersatu dalam diri mereka. Lantas jika demikian, untuk apa mereka beribadah ? jika meyakini dirinya adalah Allah maka siapa yang behak di sembah ? Maha suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Jelas ini adalah kedustaan yang sangat besar. Padahal Allah berfirman dalam Al- Qur’an Surat Thaha ayat 5 : “ Ar- Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” Dan sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk menyakini hal ini. Tak lain ucapan – ucapan semacam ini hanyalah bid’ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Tidak pantas bagi seorang muslim berbicara dan bersikap kecuali dengan landasan dalil dari Al- Qur’an dan Hadits yang shahih. Allahul Musta’an. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “ Orang yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah apabila dia tidak berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan dan dia lebih banyak merusak daripada memperbaiki....Inilah prinsip yang wajib dipegang setiap muslim..” ( Majmu Fatawa, juz 2 hal 444. Asy- Syamillah ) Semoga Allah memberi taufik kepada mereka yang telah meninggalkan jalan yang lurus agar kembali pada jalan yang Haq kembali. Dan semoga kita tetap istiqomah di jalan yang lurus ini.

Boleh Zuhud, tapi....
Satu lagi hal yang sering disalahtafsirkan oleh sebagian orang adalah perihal sikap zuhud. Zuhud diartikan sebagai refleksi sikap yang anti dunia bahkan menjauhkan diri dari dunia sehingga menimbulkan kesan orang yang bersikap zuhud ini harus mengosongkan diri dari hal – hal duniawi yang membuat mereka terlihat seperti menjadi orang yang miskin, berpakaian lusuh, biji – bijian tasbih yang selalu ditangan, dan tak ada kegiatan lain yang di kerjakan melainkan hanya di masjid, dan lain sebagainya.
Memang banyak ayat Al- Qur’an dan hadits yang mengingatkan manusia akan bahaya dunia dalam kehidupan manusia jika tidak disikapi pandangan bahwa dunia hanyalah sebagai wasilah ( sarana ) untuk mencari bekal kehidupan abadi di akhirat kelak. Oleh karenanya kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai kesenangan yang memperdaya seperti sifat orang kafir yang ingkar kepada Allah yang di nisbatkan dalam Al- Qur’an Surat Ibrahim ayat 3 :“ ( Yaitu ) orang- orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari kehidupan akhirat...” Lalu, benarkah konsep zuhud yang diajarkan oleh para sufi yang meyakini bahwa dunia hanyalah musuh bagi manusia yang mengahalangi manusia dari Tuhannya sehingga harus ditinggalkan demi bertaqarrub kepada Allah ? Tentu saja tidak. Bukankan Allah sewaktu pertama kali menciptakan manusia adalah ditujukan sebagai khalifah untuk mengatur kehidupan dunia ini ?. Bahkan Al – Qur’an sendiri dalam surat Al- A’raaf ayat 32 dengan tegas menyatakan : “ Katakanlah : Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah Swt yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba - hamba-Nya dan ( siapa pulakah yang mengharamkan ) rezeki yang baik ?”. Hakikat zuhud yang sebenarnya adalah orang yang menjadikan dunia sebagai ladangnya akhirat, meninggalkan kenikmatan dunia karena lebih mengharapkan kenikmatan akhirat dan orang yang ketika mempunyai harta benda selalu membelanjakannya di jalan yang diridhoi Allah Swt. Wallahu’alam bishowab. Demikianlah, Sesungguhnya Allah sangat dekat kepada hamba- Nya. Maka jangan pernah sekali pun untuk bepaling dari-Nya. Dengan terus bertaqarrub kepada Allah tak lain yang dirasakan adalah manisnya iman serta tercegahnya dari perbuatan dosa. Karena bagaimana hendak mengerjakan perbuatan dosa, jika mengetahui bahwa ada suatu dzat Yang Maha Kuasa selalu menyaksikan setiap gerak – gerik tingkah laku manusia. Sementara setiap tingkah laku manusia akan di pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Serta menjadikan Allah sebagai satu- satunya tempat memohon pertolongan, petunjuk, pemberi ketentraman jiwa dan menjadikan-Nya sebagai kekasih yang hakiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar