Sabtu, 03 April 2010

Ketika Waria Bertasbih



Heran..? Penasaran..?
He...Sama, awal mendengar kabarnya ana juga sempat kaget. Karena mungkin ini yang pertama kali di Indonesia atau bahkan sentero dunia islam, para waria berkumpul untuk mengikuti sebuah pesantren yang kemudian dikenal pula dengan nama Pesantren Waria..
Semakin penasaran..?? okey guys,, let’s check it out...!!

Berawal dari Sebuah Pendiskriminasian
            Memang tak bisa dipungkiri, bahwa keberadaan waria di tengah umat bagaikan suatu momok yang memalukan. Karena bagaimana tidak, pada hakikatnya waria adalah orang yang menentang kodrat yang telah diberikan Allah kepada mereka sebagai laki – laki. Namun, karena berbagai faktor yang terjadi dalam dirinya, hingga para waria nekad untuk mengubah statusnya, mulai dari operasi wajah, suntik silikon, atau bahkan ada yang sampai operasi kelamin..Na’udzubillah. Yah,,memang itulah kenyataan sebenarnya. Namun, terkadang masyarakat sering memperlakukan para waria dengan tindakan yang tidak senonoh, hingga terkadang waria merasa sangat terhina. “Waria juga manusia...”. Begitulah tanggapan waria ketika dilecehkan oleh masyarakat. Memang, sebagai manusia yang punya hati nurani, mereka pasti merasa sedih terhadap perlakuan masyarakat terhadap mereka. Bahkan ketika waria meninggal dunia pun jarang ada kerabat atau keluarga sekalipun yang mau merawat dan menguburkan jenazahnya.
Pesantren Waria pun didirikan
Hal inilah yang menjadi titik tolak bagi seorang waria bernama Mariyani (48 tahun) untuk mendirikan sebah pondok pesantren khusus waria yang beralamat di Kampung Notoyudan, Gedong Tengen, Yogyakarta. Mereka bergabung dalam Pondok Pesantren Senin-Kamis ini terdiri dari sekitar 20 orang jamaah yang terdiri dari kum waria, gay dan juga lesbian. Selain itu, pesantren ini didirikan karena ada prediksi tingginya angka prevalensi HIV dan AIDS di kalangan waria. Juga belum adanya pendekatan secara rohani yang memadai dikalangan waria. Faktor lain juga karena tingginya angka Diskriminasi secara sosial dan agama dikalangan waria
 “Meski waria, kami tetap ingin dekat dengan Allah. Teman-teman waria di sini rindu menyapa Allah,” ujar Mariyani, sang pendiri sambil menyebut nama-nama rekannya yang sebagian berasal dari luar kota.Sungguh kawan-kawan itu juga ingin beribadah seperti layaknya kaum muslim,”lanjutnya.
Menurut Mariyani, kerinduannya pada Allah sudah terjadi 10 tahun silam. Waktu itu ia bergabung dengan kelompok pengajian Mujahadah Al Fatah asuhan KH Hamroeli Harun MSc. “Dari sekian banyak jemaah Pak Kiai, hanya saya yang waria. Meski begitu, Pak Kiai berkenan merangkul dan membimbing saya. Bahagia sekali saya bisa belajar agama dari beliau. Saya bisa bersujud di hadapan Allah,” kata Mariyani dengan wajah berbinar. Dan hingga kini, pesantren waria ini pun mendapatkan respon positif dari lingkungan masyarakat di sekitarnya.

Sarung atau Mukena ? itu Terserah Mereka..
Meski namanya Ponpes Senin-Kamis, kegiatan sudah dimulai sehari sebelumnya dan mulai berlangsung sekitar jam 16.00. Dibimbing para ustaz, mereka belajar membaca Al Quran. ”Malamnya, kami wirid, lalu baca doa kesehatan, mohon rezeki, sampai tahajud. Tidur sebentar, disambung lagi salat fajar jam 03.30, kemudian salat subuh,” kata Mariyani yang mendapat bimbingan dari sekitar 20 ustaz secara bergantian.
Menurut Mariyani, banyak rekannya yang semula tidak paham sembahyang. “Pak ustaz dengan sabar mengajari. Mulai dari wudu sampai bacaan-bacaan doa. Sekarang ada teman yang sudah pintar adzan, lho,” ujar Mariyani yang mengadopsi seorang anak ini. Semua itulah yang membuatnya bertekad meneruskan kegiatannya, tidak hanya pas Ramadhan.
“Saya baru berhenti kalau Allah memanggil saya. Senang sekali Pak Kiai dan para ustaz terus mendukung. Inilah yang bisa saya lakukan semampu saya. Kepada kawan-kawan, saya tidak minta apa-apa. Soal dana, saya sendiri yang coba mengatasinya. Syukurlah, ada saja yang bersedia menyumbang,” kata Mariyani yang penghasilannya ditopang dari membuka salon.
Untuk teman-temannya, Mariyani menyediakan sarung dan mukena untuk sembahyang. “Terserah kawan-kawan mau pakai apa. Sarung silakan, mau pakai mukena juga boleh. Yang penting kami bisa sembahyang. Soal diterima atau tidak, hanya Allah yang mengetahui,” katanya mantap.
Yang Kontra pun tetap ada
Telah menjadi sunatullah bahwa jika ada yang pro pasti ada pula yang kontra. Begitu pula dengan kegiatan pesantren waria ini, karena dianggap menodai agama karena menjalankan ibadah dengan tidak semestinya. Ini karena Islam membedakan tata cara ibadah bagi pria dan wanita dan sudah menjadi ketentuan baku dari ALLah serta ALLah tidak pernah salah dalam mencipta mahluknya.
Berbeda dengan pendapat tersebut, Ketua MUI yogyakarta jauh lebih bijak dalam menyikapi pesantren waria ini. Menurut beliau kegiatan pesantren waria ini positif adanya. Setidaknya ada niat baik yang tumbuh dari para waria untuk mendekatkan diri pada ALLAH SWT. (Dikutip dari http://bilah9.blogspot.com/2008/10/pesantren-waria.html                 

Bercermin Pada Mizan Syar'i

            Dalam Al-Qur’an jelas dinyatakan bahwa “...dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan..(QS.Ali ‘Imraan 3 : 36 ). Maka sudah pasti bahwa islam tidak mengenal jenis kelamin Waria. Justru dalam sebuah Hadits dinyatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah melaknat seorang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki – laki.
            Oleh karena itu, sudah seharusnya para waria untuk kembali ke kodratnya, karena itu lah pemberian yang terbaik dari Allah. Namun, Melihat kenyataannya saat ini, sebagian dari para waria yang hendak kembali ke kodrtanya mengalami kesulitan, karena pembentukan karakter wanita yang telah begitu tertanam kuat pada diri mereka.
            Dengan didirikannya pesantren waria ini, tentunya kita sebagai kaum muslimin berharap agar para waria untuk mentafaqquhi ilmu agamanya lebih lanjut dan tak hanya sekedar belajar sholat dan mengaji. Agar mereka lebih memahami hakikat penciptaan laki-laki dan wanita. Memang semua itu butuh proses, namun jika mereka memang telah berniat untuk belajar ilmu agama dan mendekatkan diri kepada Allah, Insya Allah, Allah akan dengan mudah untuk memberikan hidayah-Nya kepada mereka. Dengan sadarnya para kaum waria, gay dan lesbian ini maka mereka akan semakin diterima oleh keluarga dan lingkungan mereka. Yah, kita doakan saja ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar