Minggu, 28 Maret 2010

Selimuti Kalbu dengan ikhlas


Berbicara mengenai kalbu, memang takkan ada habisnya. Ya, kalbu merupakan salah satu anugerah terindah yang telah di karuniakan Allah Swt kepada manusia. Karena kalbu merupakan sumber utama dari segala perasaan. Bahagia, senang, susah dan sedih dapat kita rasakan melalui kalbu. Bahkan keimanan, kekufuran, kebimbangan dan ketenangan pun bersumber dari kalbu. Segala tingkah laku manusia merupakan hasil cerminan dari seberapa sehat kalbu kita. Manusia yang melakukan tindakan yang terpuji menandakan bahwa kalbu yang sehat, dan begitu pula sebaliknya. Kalbu yang sehat akan selalu terjaga dengan selimut keikhlasan yang akan berbuah keimanan. Oleh karenanya, ikhlas terletak pada niat kalbu. Seberapapun amalan ibadah manusia jika tidak didasari dengan keikhlasan dalam melakukannya maka amal kita tersebut tidak akan bernilai di mata Allah Swt.
Ikhlas, ruhnya ibadah
Keikhlasan sangat menjamin dari diterima atau tidaknya suatu ibadah manusia disamping harus mengikuti tuntunan dari Rasulullah Saw. Sementara ibadah merupakan suatu kebutuhan terhadap Allah sebagai tempat sandaran kalbu dan jiwa sekaligus tempat memohon petunjuk dan pertolongan. Allah berfirman dalam surat Al- Bayyinah ayat 5 : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien ( agama ) kepada- Nya, dengan mentauhidkan-Nya.”
Keikhlasan akan terasa indah ketika kita meniatkan seluruh amal ibadah kita hanyalah untuk mengharap ridho Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), dan bukan pula karena ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya”. Ibadah yang diniatkan kepada selain Allah akan berujung pada kesyirikan yang dapat merusak kejernihan ibadah serta menghapus pahala. Sementara dosa syirik tersebut merupakan salah satu dosa besar yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah Swt. Na’udzubillah
“ Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ( mempersekutukan Allah dengan sesuatu ), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.”( QS. An- Nisaa: 116 ).
Raih puncak ketaatan dengan ikhlas
Rasa ikhlas hanya akan datang dari seorang yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagai satu – satunya tempat bergantung dan menyandarkan segala harapan. Bersikap zuhud terhadap dunia dan selalu menyibukkan diri dengan selalu mengingat Allah. Tiada satu detik pun berlalu melainkan bibir yang selalu menyebut nama-Nya. Setiap langkah kaki menuju ke arah ketaatan kepada- Nya. Menjadikan pandangannya sebagai ibroh, diam sebagai perenungan dan ucapan sebagai dzikir.
Namun, sebagian manusia mungkin berpikir bahwa ikhlas hanya ada dalam ibadah – ibadah yang bersifat mahdah, seperti sholat, shaum, zakat, ibadah haji dan amalan – amalan ibadah lainnya. Namun, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Bahkan memberikan senyuman kepada saudara yang lain yang dilandasi dengan keikhlasan justru sangat bernilai di mata Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim). Subhanallah, betapa kita dapat mengambil suatu keberuntungan yang sangat besar jika kita dapat menghadirkan rasa ikhlas dalam seluruh gerak – gerik kehidupan kita di dunia ini.
Begitu pula ketika musibah datang menghampiri kita. Yakinlah bahwa tidak akan ada suatu musibah yang menimpa kita dengan tanpa izin Allah Swt. Dan hal ini merupakan suatu bentuk ujian dari Allah Swt untuk menguji seberapa besar keimanan kita kepada Allah. Semakin kuat manusia dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah kepadanya maka semakin besar pula tingkat ketakwaan orang tersebut terhadap Allah. Dan begitu pula sebaliknya. Allah berfirman dalam surat Al- Ankabut ayat 2 yang artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan :”Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. Oleh karena itu sebagai umat muslim sepatutnya kita menjadikan suatu musibah sebagai sarana bagi kita untuk meningkatkan keimanan kita dan menghapus dosa – dosa kita yang telah lalu sesuai dengan janji Allah Swt. Dengan ikhlas kita menerima musibah dan berusaha untuk sabar dalam menghadapinya.
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang – orang yang sabar “. (QS. Al- Baqarah :155).
Hal kecil pun berpahala besar
Begitu banyak amal ibadah yang terbuang sia – sia hanya karena tidak adanya rasa ikhlas dalam kalbu manusia. Namun, sebuah amal yang dinilai kecil di mata manusia bisa jadi mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda jika diiringi dengan rasa ikhlas. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Disebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim). Sungguh, besar kecilnya suatu ibadah tidaklah menjadi jaminan bagi Allah untuk memasukkan hamba-Nya ke dalam jannah-Nya. Melainkan semua itu terletak dari sejauh mana keikhlasan dari hamba- Nya tersebut. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dari hadits ini terbukti bahwa sebuah amal ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala yang besar namun hanya akan menjadi sebuah perbuatan sia – sia jika rasa ikhlas tidak ditanamkan dalam diri manusia.
Buah manis dari Keikhlasan
Buah dari Keikhlasan sangat mempengaruhi segala segi kehidupan manusia. Diantaranya sebagai berikut :
1. Sesungguhnya tak lain dari buah keikhlasan adalah terjaganya manusia dari godaan dan segala tipu daya syaithan yang selalu berusaha menjerumuskankan manusia ke dalam lembah kemunafikan. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83).
2. Terjaganya manusia dari segala prilaku yang tercela karena Allah yang akan menjaganya dari segala maksiat dan kejelekan. Seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf as. Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24).
3. Kita akan merasakan ketentraman jiwa, kelegaan kalbu karena hanya kepada Allah lah kita menyandarkan segala urusan dunia dan akhirat kita. Jika kalbu telah menyandarkan sepenuhnya kepada Sang Maha penguasa maka bagaimana kalbu bisa berpaling kepada selain- Nya. Sementara jiwa kita terus berada dalam genggaman-Nya. Segala nafsu duniawi tak lagi berarti jika kita merasakan betapa bahagianya dengan menumbuhkan sikap ikhlas ini.
4. Seorang hamba yang ikhlas dalam menjalani lika – liku kehidupannya akan memiliki suatu kekuatan ruhaniyah yang besar. Keikhlasan tersebut telihat dari raut wajah, tutur kata, serta disetiap gerak – gerik prilakunya. Sehingga membuat orang lain merasa nyaman dan mempercayai kita. Setiap tumpahan kata – kata yang menyejukkan kalbu, prilaku yang jauh dari segala kemaksiatan, menjadi panutan bagi sesamanya. Semua yang dilakukannya tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang dihadapinya, namun ia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi sesamanya. Karena ia mengetahui ada Dzat yang lebih menguasai segala urusan manusia. Sementara manusia hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya di hadapan- Nya.
Subhanallah, sungguh nikmat terasa jika rasa ikhlas telah tertanam dalam kalbu kita. Iman yang semakin bertambah, Kalbu yang kian bening, jiwa yang tentram, membuat kita merasa indahnya menjadi seorang muslim yang mengikhlaskan segala amal ibadah hanya kepada Allahu Rabbi.Demikianlah, semoga kita menjadi muslim yang selalu menaati perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, menjadi pribadi muslim yang berjuang demi tegaknya ajaran diennya dan ikhlas menjadi bagian dari dirinya sebegai sosok muslim dan muslimah yang dirindukan oleh setiap umat di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar