Sabtu, 27 Maret 2010

Islam atau hanya tradisi ?


Ketika di lahirkan ke muka bumi ini, manusia tak lain hanyalah seorang makhluk lemah nan tak berdaya yang belum mengenal Tuhan-Nya. Bahkan untuk mengenali orang tuanya saja memerlukan waktu beberapa bulan dalam proses pembelajarannya. Oleh karenanya, tentu timbul petanyaan pada diri seorang muslim. Sejak kapan dirinya memeluk agama Islam ?

Islam Agama Fitrah
Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah Swt dengan penuh hikmah dan pelajaran. Tak ada satu hal pun yang luput dalam ruang lingkup Islam. Sebagai agama fitrah, maka tak heran jika ketika pertama kali terlahirkan ke dunia ini seorang manusia telah menganut agama Islam. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa : “ Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah / muslim, dan orang tuanyalah yang menjadikan ia majusi, nasrani, atau yahudi .” (HR. Bukhari ).
Suatu fenomena keliru yang sering terjadi adalah suatu majelis yang mengharuskan anggotanya untuk bersyahadat kembali di hadapan pimpinannya dan menganggap bahwa seseorang manjadi kafir bila belum bersyahadat di hadapan imamnya tersebut. Sungguh hal ini merupakan kedustaan belaka. Coba kita lihat kisah Bilal bin Rabbah, seorang budak Umayyah yang hanya bersyahadat di hadapan Allah saja. Ia hanya mampu mendengar Islam dari mulut ke mulut, telinga ke telinga. Tanpa pernah bertemu langsung dengan Rasulullah Saw. Ketika akhirnya sang tuan mengetahui keislamannya dan menyiksanya, kemudian Abu Bakar datang dan menebusnya dan membawa Bilal ke hadapan Rasulullah. Rasulullah tidak pernah menyuruh Bilal untuk bersyahadat kembali. Beliau langsung memeluknya penuh cinta tanpa memandang warna kulit Bilal yang hitam legam dan tanpa peduli latar belakang Bilal yang hanyalah seorang budak. Itulah indahnya Islam sebagai agama fitrahnya manusia.

Bukan sekedar tradisi
Seperti yang telah diketahui selama ini, umat Islam di Indonesia memiliki jumlah terbanyak dibandingkan dengan negara- negara lainnya di dunia. Namun jumlah yang banyak tersebut tidak menjadi jaminan bahwa agama Islam di Indonesia berkembang dengan subur alias dengan sesuai dengan syariat. Hal ini terbukti dengan banyaknya maksiat yang masih sering terjadi bahkan aliran – aliran yang menyimpang dari syariat Islam pun masih sering di temukan di beberapa daerah di Indonesia. Na’udzubillah.
Ya, seperti itulah yang terjadi jika umat muslim hanya menjadikan agama Islam hanya sekedar tradisi. Mengaku muslim karena berlatarbelakang dari keluarga yang juga muslim. Sehingga segala akar – akar budaya nenek moyang yang masih bercampur dengan kemusyrikan pun dicampuradukkan dengan syariat Islam. Tak heran kita melihat berbagai bid’ah – bid’ah yang terjadi di kalangan umat, seperti tahlilan, merayakan 3 hari dari kematian seseorang, peringatan maulid nabi dan lain sebagainya. Padahal jelas – jelas Rasulullah Saw bersabda : Aku tinggalkan padamu dua perkara, kalian tidak akan tersesat apabila ( berpegang teguh ) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan tercerai berai sehingga keduanya mengahantarku ke telaga ( surga ).” ( Dishahihkan Al- Bani dalam kitab Shahihul Jami’).

Say no to Bid’ah
Sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajiban untuk selalu berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan setiap menemukan bid’ah, maka tindakan muslim yang sepatutnya adalah menolaknya dengan tegas. Karena bid’ah tersebut adalah suatu bentuk kesesatan, dan setiap kesesatan akan berujung pada neraka. Namun, kenyataan yang terjadi di kalangan umat adalah mereka mau di seru pada hal – hal yang bersifat umum, seperti berakhlakul karimah, shalat, puasa, dan lain sebagainya. Tetapi jika di seru kepada sesuatu yang semua Rasul memulai dakwahnya, yaitu pada tauhid, hanya beribadah kepada Allah Swt semata, dan istiqomah dalam menjalankannya, kebanyakan dari mareka seakan merasa enggan dan terusik dengan hal tersebut. Karena mereka menganggap bahwa cara beragama nenek moyang mereka sudah menjadi suatu patokan dan tidak boleh ada yang merubahnya. Sehingga agama tradisi itu menjadi sesuatu yang wajib di lestarikan secara turun temurun. Kenyataan ini sungguh persis seperti yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an : “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’.Mereka menjawab, ‘ Cukuplah untuk kami apa yang kami dari bapak – bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa – apa dan tidak pula mendapat petunjuk ?:” ( QS. Al- Maidah : 104 ).
Muslim,,,harus Kaffah !
Dalam mendalami agama Islam, seorang muslim harus memahami secara kesuluruhan bukan secara parsial atas dasar keinginan tertentu. Setiap menafsirkan ayat Al-Qur’an dan Hadits pun harus menggunakan rujukan yang tepat, yaitu yang sesuai dengan manhaj Nabi Saw yang diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Oleh karena itu, Seorang muslim harus menjadi muslim yang kaffah ( menyeluruh ) dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan Allah Swt dan Rasul- Nya tanpa meninggalkan sebagian yang lainnya.
“Tidak pantas bagi laki – laki mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan ( yang lain ) bagi mereka dalam urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” ( QS. Al- Ahzab : 36 ).

Tak Sekedar identitas belaka
Mengaku muslim, tak cukup hanya di lisan saja. Butuh suatu pembuktian khusus yang di wujudkan dengan amal perbuatan sehari – hari demi menggapai cinta-Nya. Benarlah yang dikatakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw bersabda “ Iman itu bukanlah hanya dengan berharap dan berhias melainkan iman itu apa yang bersemayam di dlam hati dan di benarkan dalam wujud amal perbuatan “ . ( Mutaffaq’alaihi ). Sebagai refleksi dari amal perbuatan sehari – hari, seorang mukmin harus bertingkah laku sesuai dengan yang telah disyariatkan dalam Al- Qur’an dan As- Sunnah serta menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan dalam mengarungi dunia fana ini. Tak ada hal lain yang dilakukannya melainkan selalu menyibukkan hati dengan selalu mengingat Allah Swt.

Beruntunglah yang terasing
Begitu peliknya dunia ini ketika orang yang bersungguh – sungguh dalam menjalankan perintah agama justru dianggap terlalu berlebihan, ekstrem atau bahkan di kucilkan dalam pergaulan. Sebut saja seorang laki – laki yang memakai celana diatas mata kaki, lelaki yang memelihara janggut, dan wanita bercadar. Bahkan kerap kali mereka dituding sebagai anggota jaringan teroris dan sebagainya. Sungguh perih terasa, sunnah nabi yang sepatutnya di lakukan oleh seorang muslim justru menjadi bahan gunjingan. Na’udzubillahi min dzalik.
Namun begitulah kenyataan yang terjadi pada masyarakat saat ini. Menilai seseorang berdasarkan kacamata modernisasi bukan atas dasar syariat Islam. Padahal sebagai orang yang mengaku beragama Islam, berkewajiban untuk selalu berpegang teguh pada Kitabullah dan As- Sunnah. Dan bukan pada selain padanya. Apalagi hanya berdarkan hawa nafsu belaka.
Memang benar yang dikatakan Rasulullah Saw “Sesungguhnya Islam pada permulaannya datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka keuntungan besarlah bagi orang – orang yanga asing .”( HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan “ Dan keuntungan besarlah bagi orang – orang yang asing, yaitu orang – orang yang shalih di lingkungan orang banyak berperangai buruk, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang menaatinya.” ( HR.Ahmad, hadits Shahih ).
Bahkan di dalam Al-Qur’an Allah memuji mereka yang beristiqomah di jalan-Nya dengan firman-Nya :
“ Dan sedikit sekali dari hamba – hamba- Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ : 13 ).
Oleh karena itu, janganlah mudah terbuai dan terpengaruh pada orang –orang yang melecehkan sunnah Nabi tersebut. Namun, bukan berarti menjauhi mereka, namun nasehatilah mereka, berilah mereka pemahaman yang benar, yaitu yang sesuai dengan pemahaman para salafus shalih. Dan teruslah berdoa kepada Allah agar Allah memberikana hidayah-Nya kepada orang – orang tersebut. Karena sesungguhnya Allah laah yang berhak memberi petunjuk kepada hamba – hamba yang di kehendakinya. Allahul Musta’an.
Demikianlah, semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bertaqarrub padanya, yang selalu mengesakan-Nya dengan tauhid yang semurni – murninya. Dan menjadikan islam sebagai satu – satunya agama yang mulia, bukan sebagai agama tradisi yang diturun temurunkan oleh keluarganya. Serta senantiasa beristiqomah dalam menjalankan ajaran Islam. Tak pernah ragu dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Itulah ciri mukmin yang sejati. Mukmin yang selalu di dambakan umat, demi tegaknya Syariat Islam sebagai satu – satunya agama yang diridhai Allah Swt di sisi – Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar